papua.tagarutama.com, Fakfak – Komitmen Pemerintah Kabupaten Fakfak dalam memperkuat sektor perkebunan rakyat kembali mendapat respons positif dari masyarakat. Melalui Dinas Perkebunan, pemerintah terus menggencarkan sosialisasi langsung ke distrik dan kampung-kampung sentra produksi pala, membawa kebijakan yang kini dirasakan sebagai harapan baru bagi para petani.
Di tengah aktivitas kebun yang menjadi sumber penghidupan utama, kehadiran pemerintah disambut hangat. Penetapan harga pembelian pala mentah berkualitas dinilai sebagai langkah penting yang telah lama dinantikan. Kebijakan ini bukan sekadar aturan, melainkan bentuk nyata penghargaan atas kerja keras petani dalam menjaga mutu hasil panen.
Antusiasme terlihat di berbagai titik sosialisasi. Para petani menyampaikan bahwa kebijakan tersebut mulai menghadirkan rasa keadilan dalam tata niaga pala di Fakfak. Selama ini, mereka kerap dihadapkan pada praktik panen dini buah dipetik sebelum cukup umur demi kebutuhan mendesak yang berujung pada penurunan kualitas dan harga jual. Kini, dengan adanya kepastian harga untuk pala matang dan berkualitas, semangat untuk merawat tanaman hingga siap panen semakin menguat.
Salah satu keluarga petani, Edmon Horik dari Kampung Mandopma, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Dengan adanya penetapan harga ini, kami merasa lebih tenang. Ada penghargaan bagi kami yang berusaha menjaga kualitas pala. Dulu sering dipetik sebelum waktunya, sekarang kami punya motivasi untuk menunggu sampai benar-benar matang agar nilainya juga lebih baik,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan pola pikir yang mulai tumbuh di kalangan petani. Kesadaran bahwa kualitas menentukan nilai jual kini semakin menguat. Harapannya, kondisi ini dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara bertahap.
Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST., MT, menilai respons positif ini menjadi energi baru bagi pemerintah untuk terus mengawal program strategis pengembangan pala unggul di daerah.
“Kami melihat semangat petani luar biasa. Mereka merasa dihargai, dan itulah tujuan utama kebijakan ini. Penetapan harga bukan hanya soal angka, tetapi bentuk keberpihakan kepada petani yang selama ini setia menjaga kualitas pala Fakfak,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah ingin membangun sistem perdagangan pala yang lebih adil, sehat, dan memberikan nilai tambah bagi pelaku utama di sektor ini.
Lebih lanjut, Widhi menekankan pentingnya perubahan pola budidaya menuju panen berkualitas. Menurutnya, pala tidak boleh lagi dipetik sebelum matang, karena hal tersebut berdampak langsung pada daya saing komoditas di pasar.
“Kita sedang membangun budaya baru, yaitu budaya menjaga mutu. Jika pala dipanen saat benar-benar matang, nilai jualnya akan meningkat dan posisi pala Fakfak di pasar nasional maupun internasional semakin kuat,” tambahnya.
Dinas Perkebunan juga memastikan bahwa kegiatan sosialisasi akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Pendekatan langsung ke kampung-kampung dinilai efektif untuk membangun komunikasi dengan petani, pengepul, serta pelaku usaha lainnya agar tercipta kesamaan visi dalam menjaga kualitas pala dari hulu hingga hilir.
Menutup keterangannya, Widhi menyampaikan pesan yang menggambarkan harapan besar bagi masa depan perkebunan Fakfak.
“Ketika petani tersenyum, ekonomi kampung ikut bergerak. Saat pala dihargai dengan layak, semangat berkebun akan tumbuh kembali. Jika kualitas terus dijaga, masa depan perkebunan rakyat Fakfak akan semakin kuat dan membanggakan.”
Kini, kebangkitan pala Fakfak bukan lagi sekadar wacana. Ia tumbuh dari kebun-kebun rakyat, hidup dalam semangat para petani, dan bergerak bersama komitmen pemerintah menuju cita-cita besar: menghadirkan pala unggul, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mengukuhkan Fakfak sebagai Kota Pala yang dikenal luas. (TU.01)










